Imbal Hasil Pemerintah AS Tetap Tertekan, S&P 500 Futures Turun Setengah Persen di Tengah Sentimen Masam
- Imbal hasil obligasi Pemerintah 10-tahun AS jungkat-jungkit di sekitar terendah dua minggu.
- S&P 500 Futures turun 0,60%, saham-saham Asia-Pasifik diperdagangkan mixed.
- PBOC mengumumkan pemangkasan bunga, kekhawatiran Omicron meningkat menjelang musim liburan.
- Waller dari The Fed memperbarui seruan kenaikan suku bunga, Senator AS Manchin meredam harapan BBB.
Setelah mengalami pekan roller-coaster yang dipenuhi oleh tindakan para bankir bank sentral, pasar global tetap tertekan selama Senin pagi.
Ketika menggambarkan sentimen, imbal hasil obligasi Pemerintah 10-tahun AS turun 1,5 basis poin (bps) ke 1,38%, turun untuk hari ketiga berturut-turut sementara S&P 500 Futures turun 0,60%. Selanjutnya, ASX 200 Australia turun 0,30% pada saat berita ini dimuat bahkan ketika saham-saham di Tiongkok diperdagangkan mixed.
Alasannya dapat dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap varian covid yang terkait dengan Afrika Selatan, yaitu Omicron, serta kekhawatiran baru kenaikan suku bunga The Fed pada awal 2022. Menambah katalis bearish adalah kekecewaan anggota Partai Demokrat AS setelah Joe Manchin menolak desakan untuk memberi suara pada stimulus Build Back Better (BBB) Presiden Joe Biden.
Lonjakan 52% dalam kasus covid di Inggris dan ketakutan terhadap pembatasan baru terkait covid selama perayaan Natal ditambah dengan obrolan seputar kematian akibat virus dari seorang penduduk Selandia Baru yang menggunakan vaksin Pfizer. Selain itu, New York Times mengatakan, “Dr. Anthony S. Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di negara itu, memperingatkan pada hari Minggu bahwa varian Omicron yang sangat menular dari virus corona sedang mengamuk di seluruh dunia dan kemungkinan akan menyebabkan lonjakan besar lainnya di Amerika Serikat, terutama di antara yang tidak divaksinasi.
Di tempat lain, tidak adanya dukungan Senator AS Manchin menghilangkan peluang diskusi yang bermanfaat pada stimulus AS yang sangat ditunggu-tunggu selama tahun 2021 karena Demokrat membutuhkan semua suara partai untuk membuat kemajuan pada BBB. “Joe Manchin dari Virginia Barat tampaknya memberikan pukulan fatal terhadap RUU kebijakan domestik Presiden Joe Biden, yang dikenal sebagai Build Back Better, yang juga bertujuan untuk memperluas jaring pengaman sosial dan mengatasi perubahan iklim,” seperti dilansir Reuters.
Di baris yang sama ada pembicaraan baru mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada awal 2022, yang dipicu pada hari Jumat oleh anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller. Penentu kebijakan mengatakan, seperti dilansir Reuters, "'Inti' dari keputusan The Fed mempercepat laju tapering QE adalah untuk membuat pertemuan The Fed Maret 'hidup' untuk kenaikan suku bunga pertama."
Dengan latar belakang ini, Indeks Dolar AS (DXY) kesulitan di sekitar 96,65, setelah membukukan penutupan harian tertinggi di 2021 pada hari sebelumnya. Gelombang penghindaran risiko mendukung harga emas tetapi membebani minyak.
Perlu dicatat bahwa kalender ekonomi ringan dan suasana liburan dapat membatasi pergerakan pasar ke depan.