CPO: Harga Minyak Sawit Rebound Tipis, Permintaan Asia Masih Menahan Laju

  • CPO kontrak Juli 2026 naik tipis ke 4.397 ringgit per ton, setelah sempat turun ke 4.370 ringgit.
  • Pelemahan Ringgit dan lonjakan minyak mentah memberi dukungan, tetapi belum cukup membalik tren lemah sejak 5 Mei.
  • Permintaan India dan Tiongkok yang belum kuat masih menjadi penghambat utama bagi harga sawit.

Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kontrak Juli 2026 mencoba pulih pada perdagangan Jumat. Kontrak acuan tersebut naik tipis ke 4.397 ringgit per ton, setelah sempat menyentuh level terendah harian di 4.370 ringgit.

Meski rebound, pergerakan ini belum menandai perubahan arah yang kuat. Sejak 5 Mei, tren harga masih cenderung melemah. Rentang perdagangan di 4.370-4.444 ringgit juga menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati, dengan pelaku pasar menunggu sinyal lebih jelas dari permintaan dan harga minyak nabati pesaing.

Ringgit Lemah Jadi Penahan Koreksi

Dari pasar valas, pelemahan Ringgit Malaysia memberi sedikit dukungan bagi CPO. USD/MYR naik 0,50% ke 3,9495, menandakan Ringgit masih berada di bawah tekanan Dolar AS.

Ringgit yang lebih lemah biasanya membuat CPO berdenominasi Ringgit lebih menarik bagi pembeli luar negeri. Namun, dorongan ini belum cukup besar karena harga masih dibayangi lemahnya permintaan, persaingan dengan soybean oil, dan sentimen Dolar AS yang kuat.

Permintaan India-Tiongkok Masih Rapuh

Sisi permintaan tetap menjadi titik lemah utama. Pembeli India dilaporkan mulai beralih ke soybean oil Argentina, sementara Tiongkok menunda pembelian jangka pendek dan lebih banyak mencermati kontrak forward untuk pengiriman Desember.

Impor minyak sawit India pada April turun 26% dari bulan sebelumnya ke level terendah dalam empat bulan. Penurunan ini terjadi karena permintaan institusional melemah dan selisih harga CPO terhadap minyak nabati pesaing menyempit, membuat refiners tidak agresif menambah pembelian.

Sinyal ekspor Malaysia juga belum seragam. Trading Economics mencatat AmSpec Agri memprakirakan ekspor 10 hari pertama Mei turun 10,8%, sedangkan Intertek memprakirakan kenaikan 8,5%. Perbedaan estimasi ini membuat pasar belum berani membangun ekspektasi penguatan yang lebih kuat.

Minyak Mentah Tinggi Beri Bantalan

Dari sisi energi, perang AS-Iran masih memberi sinyal campuran bagi pasar sawit. Risiko gangguan di Selat Hormuz menjaga harga minyak mentah bertahan tinggi, yang pada umumnya dapat meningkatkan daya tarik biodiesel dan menopang sentimen komoditas berbasis energi, termasuk CPO.

Ketegangan AS-Iran belum benar-benar mereda meski gencatan senjata disebut masih berlaku. Washington masih mendesak Teheran mencapai kesepakatan, sementara isu uranium, blokade, dan pembukaan kembali Selat Hormuz tetap menjadi sumber utama ketidakpastian.

Sinyal positif muncul setelah Iran mengizinkan sebagian kapal Tiongkok melintas di Hormuz, tetapi akses ini belum berarti normalisasi penuh. Risiko bentrokan terbatas juga masih membayangi, sehingga pasar tetap membaca situasi energi sebagai faktor volatilitas.

Mengacu data Bloomberg pada pukul 15:45 WIB, WTI Crude Oil kontrak Juni 2026 naik 3,69% ke US$104,90 per barel, sementara Brent Crude kontrak Juli 2026 menguat 3,25% ke US$109,16 per barel. Lonjakan minyak mentah ini lebih berperan sebagai penahan koreksi harga CPO, sementara ruang penguatan tetap dibatasi oleh lemahnya permintaan India-Tiongkok dan persaingan dengan soybean oil.

Dampak ke Sawit Indonesia Masih Campuran

Bagi minyak sawit Indonesia, situasinya masih belum sepenuhnya positif. Harga minyak mentah yang tinggi dapat membantu menahan tekanan CPO, terutama karena memperkuat narasi biodiesel. Namun, lemahnya permintaan ekspor dari India dan Tiongkok tetap membatasi ruang penguatan.

Jika permintaan Asia belum membaik, produsen sawit Indonesia berisiko menghadapi tekanan harga jual, sementara petani dapat ikut terdampak melalui harga tandan buah segar. Dalam jangka pendek, arah pasar kemungkinan masih ditentukan oleh perkembangan permintaan India-Tiongkok, data ekspor Malaysia, harga soybean oil, dan pergerakan minyak mentah.

Yen Jepang: Intervensi Butuh Dukungan Suku Bunga – Commerzbank

Michael Pfister dari Commerzbank berpendapat bahwa otoritas Jepang tidak dapat hanya mengandalkan intervensi Valas untuk mendukung Yen Jepang (JPY) terhadap Dolar AS (USD)
Baca lagi Previous

Harga Perak Hari ini: Perak Jatuh, Menurut Data FXStreet

Harga Perak (XAG/USD) turun pada hari Jumat, menurut data FXStreet. Perak diperdagangkan di $78,44 per troy ons, turun 6,02% dari $83,47 pada hari Kamis
Baca lagi Next