Rupiah Masih Berupaya Dekati 17.000, Tekanan Global dan Ekspektasi The Fed Jaga Arah Melemah
- USD/IDR bergerak di sekitar 16.950-17.000, uji resistance psikologis kian intens.
- Likuiditas domestik melambat, M2 tumbuh 8,7% (yoy) namun tetap terjaga.
- Ekspektasi inflasi AS dan sinyal The Fed berpotensi menopang permintaan dolar.
Pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat masih berada dalam tekanan yang persisten, dengan pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar 16.958, semakin mendekati area psikologis 17.000. Berdasarkan grafik dalam perdagangan harian, pergerakan harga menunjukkan rentang harian di 16.893-16.959, dengan kenaikan yang semakin terakselerasi sejak bertahan di atas area support 16.700-16.750. Setiap koreksi menuju kisaran tersebut cenderung cepat diserap, mendorong harga kembali naik dan menguji resistance bertahap di 16.900, sebelum mendekati batas atas 16.950-17.000.
Struktur ini memperlihatkan tekanan naik yang konsisten, dengan pola higher low yang masih terjaga dalam jangka pendek. Meski demikian, intervensi Bank Indonesia masih mampu menahan pergerakan agar tidak menembus 17.000 secara berkelanjutan, sehingga fase saat ini lebih mencerminkan pengujian resistance penting dibandingkan pelemahan yang tidak terkendali.
Dari sisi domestik, likuiditas menunjukkan moderasi. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,7% (yoy) pada Februari menjadi Rp10.089,9 triliun, melambat dari 10,0% pada Januari. Meski demikian, penyaluran kredit tetap mencatat ekspansi 8,9% (yoy), sementara tagihan bersih kepada pemerintah meningkat 25,6% (yoy). Kombinasi ini menggambarkan likuiditas yang masih terjaga namun bergerak dalam ritme yang lebih terukur, memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar tanpa mendorong tekanan tambahan dari sisi domestik.
Dari eksternal, data ketenagakerjaan AS menunjukkan Klaim Tunjangan Pengangguran awal naik menjadi 210 ribu pada pekan yang berakhir 21 Maret, sedikit lebih tinggi dari 205 ribu sebelumnya, meski rata-rata empat minggu justru turun tipis ke 210,5 ribu. Di sisi kebijakan, survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memprakirakan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75% setidaknya hingga September, dengan peluang pemangkasan terbatas tahun ini. Namun, proyeksi inflasi PCE yang direvisi lebih tinggi – sekitar 3,3% pada kuartal kedua – menunjukkan tekanan harga masih menjadi perhatian utama.
Dolar AS sempat kehilangan sebagian tenaga setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran dan memperpanjang tenggat pembukaan Selat Hormuz hingga 6 April. Meski demikian, ekspektasi bahwa tekanan inflasi berbasis energi dapat mendorong sikap kebijakan yang lebih ketat dari The Fed membatasi pelemahan dolar lebih lanjut.
Fokus pasar Jumat malam tertuju pada rilis ekspektasi inflasi dan sentimen konsumen Michigan. Ekspektasi inflasi 1 tahun dan 5 tahun diproyeksikan bertahan masing-masing di 3,4% dan 3,2%, sementara sentimen konsumen diprakirakan berada di kisaran 54. Rangkaian pidato pejabat The Fed juga akan menjadi katalis tambahan, dengan pasar mencoba membaca apakah bank sentral akan mempertahankan pendekatan hati-hati atau mulai membuka ruang penyesuaian di tengah lanskap inflasi yang kembali menguat.
Bagi rupiah, kombinasi ekspektasi inflasi yang tetap tinggi dan komunikasi The Fed yang berpotensi cenderung ketat dapat menjaga permintaan dolar tetap kuat, sehingga tekanan ke arah 17.000 berpeluang berlanjut jika tidak diimbangi oleh intervensi atau sentimen domestik yang lebih konstruktif.
Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS
Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.
Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.