Emas Antam Tertahan di Rp2,85 Juta Per Gram, Dolar Stabil di Awal Sesi Eropa

  • Emas Antam bertahan di Rp2,85 juta per gram.
  • Emas global melemah ke kisaran 4.431, mendekati area support.
  • Dolar AS stabil, pasar menunggu arah kebijakan The Fed.

Harga emas Antam pada perdagangan Kamis 26 Maret 2026 tercatat Rp2.850.000 per gram, relatif tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya, mencerminkan fase konsolidasi setelah volatilitas global. Pergerakan ini sejalan dengan kondisi pasar yang mulai menahan langkah, di tengah tarik-menarik antara meredanya kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian yang masih bertahan di Timur Tengah.

Di pasar global, harga emas terlihat melemah ke sekitar 4.431, mendekati area support teknis di kisaran 4.402, setelah sebelumnya gagal mempertahankan momentum kenaikan di area 5.419. Penurunan ini mengindikasikan tekanan jangka pendek masih dominan, dengan indikator momentum yang mulai melemah dan memperlihatkan pasar memasuki fase penyesuaian setelah rally sebelumnya.

Di saat yang sama, dolar AS pada awal sesi Eropa terlihat stabil di kisaran 99,69, setelah sebelumnya menguji area resistance di dekat 100,00. Stabilnya dolar ini menahan ruang penguatan emas, mengingat hubungan terbalik antara keduanya masih menjadi acuan utama pelaku pasar dalam menilai arah aset safe haven.

Di pasar domestik, rupiah bergerak stabil di sekitar 16.892 per dolar AS, dengan area 16.820-16.800 sebagai penopang terdekat, mencerminkan pasar yang masih menahan langkah sambil mencermati perkembangan global. Stabilitas ini turut menjaga pergerakan emas Antam tetap terbatas di dalam negeri.

Meski harapan gencatan senjata sempat membangun optimisme, risiko eskalasi tetap membayangi dengan meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah dan gangguan jalur energi global. Kondisi ini menjaga minat terhadap emas tetap ada, namun belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan yang signifikan.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data Klaim Tunjangan Pengangguran AS serta rangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed). Kombinasi ini akan menjadi kunci dalam membentuk ekspektasi suku bunga, yang pada akhirnya menentukan arah pergerakan dolar dan emas. Dalam situasi ini, pasar cenderung menunggu konfirmasi tambahan sebelum memperbesar eksposur, sehingga pergerakan emas diprakirakan masih terbatas dalam jangka pendek.

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

Pasar saham Asia terkoreksi setelah rally penguatan terkait gencatan senjata Trump, Hang Seng jatuh 2%

Pasar saham Asia menghadapi aksi ambil untung pada hari Kamis setelah rally dalam dua-tiga hari perdagangan terakhir
আরও পড়ুন Previous

ECB: Menimbang risiko inflasi yang dipicu konflik – Rabobank

Strateg Rabobank Molly Schwartz menyoroti bahwa Zona Euro sudah secara ekonomi terekspos terhadap konflik melalui harga energi yang lebih tinggi
আরও পড়ুন Next