Rupiah Stabil di Bawah 16.900, Pasar Menakar Risiko Global dan Arah Kebijakan Domestik

  • Rupiah bergerak di sekitar 16.892 per dolar AS, memasuki fase konsolidasi pasca penguatan.
  • Sentimen geopolitik mereda sementara, namun risiko Timur Tengah masih membayangi.
  • Pasar menunggu data tenaga kerja AS dan sinyal kebijakan The Fed.

Kurs rupiah pada perdagangan Kamis berada di sekitar 16.892 per dolar AS menjelang sesi Eropa, memperlihatkan kecenderungan stabil setelah penguatan pasca libur panjang. Secara teknis, area 16.820-16.800 menjadi penopang terdekat yang menjaga ruang penguatan tetap terbuka, dengan lapisan support lanjutan di 16.750-16.780 dan batas bawah penting di 16.700. Di sisi atas, pergerakan masih tertahan di area 16.920-16.950, sebelum mengarah ke zona psikologis 16.980-17.000 yang kembali menjadi titik perhatian utama pasar.

Arah pergerakan ini terbentuk di tengah kombinasi sentimen yang mulai membaik, sejalan dengan harapan meredanya ketegangan geopolitik. Namun, pasar belum sepenuhnya agresif, dengan pelaku pasar cenderung menahan langkah sambil mencermati perkembangan konflik Iran-AS yang masih menyisakan ketidakpastian. Penempatan tambahan pasukan AS serta gangguan di Selat Hormuz menjaga risiko energi tetap tinggi, yang pada gilirannya mempertahankan tekanan laten terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada langkah pemerintah dalam menjaga keseimbangan fiskal. Pemerintah tengah mempertimbangkan efisiensi anggaran, termasuk usulan pengurangan distribusi makanan gratis bagi siswa dari enam menjadi lima hari yang berpotensi menghemat sekitar Rp40 triliun. Di saat yang sama, kebijakan Work from Home (WFH) juga akan diterapkan untuk menekan konsumsi BBM, dengan implementasi yang direncanakan pada hari Jumat karena dinilai memiliki dampak paling minimal terhadap produktivitas. Kebijakan ini diharapkan memberi ruang efisiensi, meski dampaknya terhadap ekonomi akan tetap dinilai secara menyeluruh.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data Klaim Tunjangan Pengangguran AS sebagai indikator kesehatan pasar tenaga kerja, serta rangkaian pidato pejabat Federal Reserve (The Fed) yang akan membentuk ekspektasi arah suku bunga. Dalam konteks ini, rupiah diprakirakan bergerak dalam fase konsolidasi, dengan peluang penguatan tetap terbuka selama mampu bertahan di atas 16.820, namun tetap rentan terhadap tekanan jika level tersebut ditembus di tengah dinamika global yang masih berkembang.

Pertanyaan Umum Seputar The Fed

Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.

Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.


AUD/JPY tetap di dekat 111,00 karena komentar Pejabat RBA Kent mendukung Dolar Australia

AUD/JPY bergerak sideways setelah tiga hari mengalami penurunan, diperdagangkan di sekitar 110,90 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Kamis
อ่านเพิ่มเติม Next