Emas Antam Terkoreksi ke Rp2,84 Juta di Tengah Tingginya Minat terhadap Dolar AS

  • Emas Antam turun Rp50.000 ke Rp2.843.000/gram.
  • Emas global tembus di bawah USD 4.300, sinyal tekanan lanjutan.
  • Dolar menguat di tengah risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi.

Harga emas Antam pada awal pekan menunjukkan penyesuaian dari level sebelumnya, meski tetap bertahan di area tinggi di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan pembaruan terbaru logammulia.com per Senin, harga emas batangan Antam tercatat sebesar Rp2.843.000 untuk 1 gram, turun Rp50.000 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp2.893.000 per gram. Sementara itu, harga untuk 5 gram berada di Rp13.990.000 dan 10 gram di Rp27.925.000 (harga dasar).

Tekanan Global Menguat, Emas Dunia Melemah

Dari pasar global, harga emas menunjukkan tekanan tajam dengan pergerakan yang telah menembus di bawah level psikologis USD 4.300 dan diperdagangkan di sekitar USD 4.295. Secara teknikal, area USD 4.400 kini beralih menjadi resistance terdekat setelah sebelumnya berfungsi sebagai support, sementara pelemahan lanjutan berpotensi menguji zona support mayor di USD 3.890. Pergeseran ini mengindikasikan perubahan momentum dari fase konsolidasi menuju tekanan turun yang lebih dominan.

Dolar Menguat, Daya Tarik Emas Tergerus

Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke sekitar 99,85 memperlihatkan meningkatnya permintaan USD, yang terbentuk dari lonjakan harga minyak dan ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi. Dalam lanskap ini, imbal hasil obligasi yang lebih kompetitif membuat aset berbasis dolar semakin menarik dibandingkan emas, yang tidak memberikan yield.

Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga bertahan tinggi. Pergerakan ini mencerminkan pergeseran aliran dana, di mana investor mulai menyeimbangkan kembali portofolio dengan menggeser eksposur ke instrumen berbasis dolar.

Geopolitik Tambah Lapisan Ketidakpastian

Ketegangan geopolitik turut mempertebal dinamika pasar setelah Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, disertai ancaman terhadap sektor energi. Respons Iran yang mengisyaratkan eskalasi memperbesar risiko gangguan pasokan energi global, mendorong pasar menahan langkah sambil mengevaluasi perkembangan lebih lanjut.

Menanti Arah Berikutnya

Dengan kombinasi penguatan dolar, tekanan energi, dan risiko geopolitik, ruang penguatan emas menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek. Pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh arah dolar AS serta seberapa jauh ekspektasi suku bunga global terus bertahan di level tinggi.

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.


EUR/USD: Sinyal volatilitas dipertanyakan setelah kejutan energi – Commerzbank

Thu Lan Nguyen dari Commerzbank berpendapat bahwa meskipun apa yang digambarkan sebagai ancaman terbesar terhadap keamanan energi dalam sejarah, volatilitas tersirat pasangan mata uang EUR/USD tetap tidak biasa rendah
Baca selengkapnya Previous

Euro: IMP Akan Menunjukkan Bagaimana Kejutan Minyak Mempengaruhi Harga – Societe Generale

Tim makro Societe Generale menyoroti bahwa IMP pendahuluan bulan Maret akan menjadi bacaan kunci pertama tentang bagaimana kejutan Minyak baru-baru ini memengaruhi aktivitas dan harga di kawasan Euro.
Baca selengkapnya Next