Rupiah Melemah Terbatas di Awal Sesi Eropa, Pasar Menahan Langkah Jelang FOMC

  • Rupiah bergerak di sekitar 16.776 saat pasar bersikap hati-hati menjelang keputusan The Fed.
  • Tekanan rupiah tertahan oleh pelemahan Dolar AS, dengan DXY turun ke area 97,12, meski sentimen domestik soal independensi BI masih membayangi.
  • Pasar global bergerak defensif di tengah ketidakpastian kebijakan AS, sambil menunggu rilis data ekonomi AS malam ini dan pernyataan Jerome Powell besok.

Rupiah melemah terbatas pada perdagangan Selasa di awal sesi Eropa, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke sekitar 16.776 atau menguat 0,37%, seiring pelaku pasar menahan langkah menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve. Tekanan pada rupiah dinilai masih terkelola dan lebih mencerminkan penyesuaian teknis setelah fase penguatan sebelumnya, di tengah meningkatnya kehati-hatian global terhadap arah kebijakan moneter AS. Tekanan pada rupiah tertahan oleh pelemahan lanjutan Dolar AS, tercermin dari Indeks Dolar (DXY) yang turun ke area 97,12.

Sentimen Independensi BI Membayangi Rupiah, Investor Menahan Langkah

Dari sisi domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen terkait independensi Bank Indonesia, menyusul persetujuan DPR atas pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Perkembangan ini sempat memicu kehati-hatian investor, terutama setelah rupiah sebelumnya mendekati level 17.000 per dolar AS, dengan pasar global menakar implikasinya terhadap arah kebijakan moneter dan konsistensi stabilisasi nilai tukar. Meski Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang kredibel dan terukur, isu independensi tersebut masih menjadi faktor domestik yang membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Wacana Tarif Trump Tambah Ketidakpastian Global, Rupiah Bergerak Defensif

Sementara itu, sentimen global masih dibayangi ketidakpastian kebijakan AS setelah Presiden Donald Trump menghidupkan kembali wacana tarif, termasuk ancaman pengenaan tarif 100% terhadap Kanada apabila melanjutkan kesepakatan dagang dengan Tiongkok. Narasi proteksionisme ini menambah lapisan risiko global dan mendorong pasar mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih defensif.

Data Manufaktur AS Solid, Tekanan Rupiah Tetap Terkelola

Tekanan pada rupiah tetap terjaga di tengah rilis data ekonomi AS yang relatif kuat, khususnya dari sektor manufaktur. Pesanan Barang Tahan Lama (Durable Goods Orders) November melonjak 5,3% (MoM), berbalik tajam dari kontraksi sebelumnya, dengan pesanan tanpa pertahanan naik 6,6% dan pesanan tanpa transportasi tumbuh 0,5%, sedikit di atas ekspektasi. Selain itu, Non-Defense Capital Goods Orders ex-Aircraft meningkat 0,7%, mengindikasikan belanja modal perusahaan masih terjaga. Dari sisi regional, Indeks Aktivitas Nasional The Fed Chicago membaik ke -0,04 dari -0,42, sementara Indeks Manufaktur The Fed Dallas Januari naik signifikan ke -1,2 dari -11,3, menandakan tekanan ekonomi AS mulai mereda. Namun, rangkaian data tersebut belum cukup kuat untuk menggeser ekspektasi pasar terhadap jalur pemangkasan suku bunga The Fed, sehingga respons penguatan Dolar AS tetap terbatas dan tekanan pada rupiah cenderung bersifat terkelola.

Pasar Berhati-hati Jelang Rilis Data AS dan Pernyataan Powell

Seiring itu, pelaku pasar menahan langkah menjelang pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan besok, yang dipandang penting dalam membentuk ekspektasi lanjutan terkait arah suku bunga AS dan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh retorika Powell, serta rilis data AS malam ini – mulai dari Perubahan Ketenagakerjaan ADP rata-rata empat minggu, Indeks Harga Rumah, hingga Keyakinan Konsumen – yang akan menentukan apakah tekanan saat ini bersifat sementara atau berpotensi berlanjut seiring pasar menilai ulang arah kebijakan moneter AS.

Indikator Ekonomi

Perubahan Ketenagakerjaan ADP Rata-rata 4 Minggu

Estimasi mingguan awal ADP, yang dirilis oleh Automatic Data Processing Inc, memberikan rata-rata pergerakan empat minggu dari perubahan total ketenagakerjaan swasta terbaru di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merangsang pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Jan 27, 2026 13.15

Frekuensi: Mingguan

Konsensus: -

Sebelumnya: 8Rb

Sumber: ADP Research Institute

Laporan mingguan ADP menyajikan perubahan ketenagakerjaan sektor swasta, menawarkan pandangan terkini pasar tenaga kerja berdasarkan data ADP yang terperinci dan berfrekuensi tinggi. Para pelaku pasar sering menganggap data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia layanan penggajian terbesar di Amerika, sebagai pertanda akan dirilisnya Nonfarm Payrolls oleh Biro Statistik Tenaga Kerja.

AUD/USD: Fase Konsolidasi Diprakirakan – UOB Group

AUD/USD ditutup di 0,6916, dengan harapan konsolidasi di antara 0,6880 dan 0,6940. Laporan tersebut menunjukkan bahwa penguatan lebih lanjut mungkin terjadi, tetapi pasangan mata uang ini harus menembus di atas 0,6945 untuk menargetkan 0,6985. Analis Senior Strategi Teknik UOB Group, Quek Ser Leang dan Ekonom Lee Sue Ann mencatat
了解更多 Previous

EUR/CHF: Intervensi SNB Tidak Mungkin di Bawah 0,92 – Commerzbank

Michael Pfister dari Commerzbank membahas potensi intervensi Swiss National Bank (SNB) dalam pasangan mata uang EUR/CHF. Laporan tersebut menunjukkan bahwa SNB kemungkinan akan mentolerir level di bawah 0,92, mengingat dinamika pasar saat ini dan ketiadaan apresiasi signifikan pada Franc Swiss.
了解更多 Next