Harga Batubara Konsolidatif Menjelang Akhir Tahun, Permintaan Asia Melemah

  • Kontrak batubara bergerak stabil, dengan LQZ25 di USD 108,60/ton dan LQF26 di USD 106,60/ton, mencerminkan minimnya katalis jangka pendek.
  • HBA Desember 2025 bertahan di level menengah, dengan tekanan penurunan mulai mereda seiring terbentuknya keseimbangan permintaan-pasokan.
  • Permintaan Asia melemah, ditandai penurunan impor Tiongkok dan India, sementara India membuka peluang ekspor batubara pertama pada 2025.

Harga kontrak batubara pada perdagangan Senin (15 Desember) bergerak cenderung stabil, mencerminkan sikap pasar yang masih menahan langkah menjelang akhir tahun. Kontrak LQZ25 (Desember 2025) tercatat di USD 108,60 per ton, naik tipis USD 0,10, sementara LQF26 (Januari 2026) bertahan datar di USD 106,60 per ton. Pergerakan yang sempit ini menegaskan minimnya katalis jangka pendek, dengan aktivitas transaksi dan volume yang masih terbatas, sehingga pelaku pasar memilih menjaga posisi sambil menunggu kejelasan arah permintaan global dan dinamika pasokan regional.

Sejalan dengan itu, harga batubara acuan (HBA) pada perdagangan Selasa juga bergerak relatif stabil dengan kecenderungan konsolidasi di level menengah. Berdasarkan grafik acuan Desember 2025 (periode kedua), HBA tertinggi berada di kisaran USD 100,81 per ton, sementara HBA 1 tercatat sekitar USD 69,93, HBA 2 di USD 45,44, dan HBA 3 di USD 35,02 per ton. Struktur harga ini menunjukkan pelemahan dibanding puncak awal tahun, namun tekanan penurunan mulai mereda, mengindikasikan terbentuknya keseimbangan baru antara permintaan dan pasokan.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode Kedua Desember 2025 | Sumber: Kementerian ESDM
Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode Kedua Desember 2025 | Sumber: Kementerian ESDM


Dari sisi fundamental, stabilnya harga terjadi di tengah normalisasi permintaan global, terutama dari Asia, dengan aktivitas pembangkit listrik di negara konsumen utama masih berjalan stabil meski tanpa lonjakan signifikan. Secara global, ekspor batubara termal pada 2025 tercatat turun sekitar 5% atau sekitar 50 juta ton menjadi 945 juta ton, sebuah penurunan yang relatif jarang terjadi, dipicu oleh melemahnya permintaan dari Tiongkok dan India yang selama ini menjadi penopang utama impor global.

Permintaan Asia memang menunjukkan pelemahan, menurut Reuters, dengan impor batubara termal Tiongkok turun 12% menjadi 305 juta ton, sementara impor India turun 3% ke sekitar 157 juta ton. Meski demikian, upaya Tiongkok menekan kelebihan kapasitas berpotensi membatasi penurunan impor dalam jangka pendek. Dalam horizon yang lebih panjang, akselerasi transisi energi bersih di Tiongkok diprakirakan terus menggerus porsi batubara dalam bauran listrik.

Dari India, dinamika pasokan justru bergerak berbeda. Pemerintah India pekan lalu menyetujui ekspor batubara untuk pertama kalinya pada 2025, memungkinkan pemegang alokasi mengekspor hingga 50% dari kapasitas produksi. Kebijakan ini mencerminkan surplus produksi domestik dan strategi untuk memanfaatkan kelebihan pasokan, sekaligus menandai perubahan lanskap perdagangan batubara regional yang berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar ke depan.


GBP/JPY Pulih dari Terendah Lebih dari Satu Minggu, Kembali di Atas 207,00 Setelah Data Lapangan Pekerjaan Inggris

Pasangan mata uang GBP/JPY melanjutkan pullback baru-baru ini dari area 209,00 atau level tertinggi sejak Agustus 2008, yang disentuh minggu lalu, dan bergerak lebih rendah selama empat hari berturut-turut pada hari Selasa
مزید پڑھیں Previous

HCOB Manufacturing PMI Perancis untuk Desember di Atas Prakiraan (48.2): Aktual (50.6)

HCOB Manufacturing PMI Perancis untuk Desember di Atas Prakiraan (48.2): Aktual (50.6)
مزید پڑھیں Next