Rupiah Stabil di Tengah Antisipasi FOMC dan Negosiasi Dagang AS-Tiongkok

  • Rupiah bergerak dalam rentang terbatas Rp16.597-16.633 per dolar AS pada Selasa siang.
  • Pasar menahan langkah sambil menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve (Federal Open Market Committee/FOMC) dan hasil perundingan perdagangan AS-Tiongkok.
  • Fundamental domestik dinilai kuat, ditopang disiplin fiskal, stabilitas moneter, dan kepercayaan investor.

Pergerakan rupiah hari ini menunjukkan kecenderungan stabil dengan volatilitas yang terbatas, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan penting FOMC dan potensi kesepakatan dagang antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Secara teknis, area Rp16.580-Rp16.660 menjadi kisaran kunci, dengan peluang penguatan menuju Rp16.550 jika sentimen global membaik, sementara tekanan eksternal dapat mendorong pengujian kembali ke Rp16.700.

Di pasar obligasi, imbal hasil SUN tenor 5 dan 10 tahun masing-masing naik 1 bp dan 3 bp pada hari Senin, seiring aksi jual oleh investor domestik dan asing. Kenaikan ini memperlihatkan kehati-hatian menjelang hasil FOMC, yang diprakirakan akan menurunkan suku bunga sebesar 25 bp dan memberi panduan terkait langkah lanjutan pada Desember atau awal 2026.

Dari sisi fundamental, menurut Antara News, Panin Sekuritas menilai ekonomi Indonesia tetap tangguh pada kuartal IV-2025, didukung stabilitas moneter, disiplin fiskal, dan tingkat inflasi yang terkendali. Kondisi ini memberikan bantalan positif bagi rupiah di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, dari ranah eksternal, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington dan Beijing telah mencapai kesepahaman positif menjelang pertemuan Trump-Xi, termasuk kemungkinan penundaan tarif 100% dan komitmen Tiongkok menunda pembatasan ekspor bahan baku langka selama satu tahun.

Analis Commerzbank Michael Pfister menilai kemajuan tersebut dapat menjadi katalis utama bagi perbaikan sentimen global, terutama bila pertemuan tingkat tinggi menghasilkan kesepakatan formal terkait tarif, kedelai, dan material strategis. Ia menambahkan, langkah Tiongkok membeli kedelai AS dalam jumlah besar akan memperkuat keyakinan pasar terhadap stabilitas hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia.

Secara keseluruhan, rupiah masih berpotensi bertahan stabil menjelang keputusan FOMC, dengan arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh nada pernyataan Jerome Powell dan perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok yang menjadi fokus global pekan ini.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.


Prakiraan Harga Indeks Dolar AS: Menguji Batas Bawah Ascending Channel di Sekitar 98,50

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai Dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama, melanjutkan penurunannya selama dua hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar 98,60 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Selasa
Mehr darüber lesen Previous

Prakiraan Harga AUD/JPY: Hambatan Kenaikan Penting Muncul di Dekat 100,00

Pasangan mata uang AUD/JPY merosot ke sekitar 99,55 selama awal sesi Eropa pada hari Selasa
Mehr darüber lesen Next