Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Keputusan BI dan Sinyal The Fed

  • Rupiah bergerak di Rp16.614 per dolar AS, melemah 0,32% dengan volatilitas rendah menjelang keputusan suku bunga BI pada 22 Oktober.
  • Mayoritas ekonom memprakirakan BI akan menurunkan suku bunga ke 4,50%, sementara pasar global tertekan oleh shutdown AS yang berlarut.
  • Investor menanti data inflasi AS September dan hasil rapat The Fed akhir bulan ini untuk mengukur arah kebijakan moneter berikutnya.

Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada perdagangan Rabu siang, bergerak di Rp16.614 per dolar AS, turun 0,32% dibanding sesi sebelumnya. Sepanjang sesi, pasangan mata uang USD/IDR bergerak dalam rentang harian Rp16.580-Rp16.627, menandakan volatilitas yang relatif rendah menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) hari ini.

Secara teknis, posisi saat ini masih berada sedikit di bawah area resistance minor Rp16.650, dengan support kuat di sekitar Rp16.500. Setelah anjlok pada akhir September hingga menyentuh Rp16.800, rupiah terlihat memasuki fase konsolidasi selama dua pekan terakhir. Volume transaksi yang mulai menipis menunjukkan pasar memilih menunggu arah kebijakan moneter BI dan The Fed sebelum mengambil posisi baru.

Kinerja tiga bulan terakhir masih mencatat depresiasi sekitar 1,87%, sementara dalam enam bulan rupiah melemah 1,43%, mencerminkan tekanan eksternal yang mulai mereda namun belum sepenuhnya hilang. Pola pergerakan ini memperlihatkan keseimbangan antara ekspektasi pemangkasan suku bunga domestik dan prospek pelonggaran global yang menahan volatilitas lebih lanjut.

Ekonom Prediksi BI Turunkan Suku Bunga ke 4,50%, Ruang Pelonggaran Masih Terbuka

Mayoritas ekonom dalam survei Reuters memprakirakan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin ke 4,50% pada 22 Oktober, sementara sebagian kecil memprakirakan tetap di 4,75%. Sebelumnya, BI telah memangkas seperempat poin pada bulan September dengan suku bunga acuan turun dari 5,00% ke 4,75%.

Proyeksi median menunjukkan suku bunga bisa turun lagi ke 4,25% hingga akhir tahun dan bertahan sampai 2026. Analis Capital Economics mengingatkan, pelonggaran yang terlalu agresif berisiko menimbulkan kekhawatiran politik.

Ekonomi Indonesia diprakirakan tumbuh sekitar 5% hingga 2027 dengan inflasi terkendali di 1,8% tahun ini sebelum bergerak moderat menuju 2,5% pada 2026-2027, memberi ruang bagi BI menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.

Shutdown AS Berlarut, Dolar Tertekan di Tengah Harapan Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok

Sementara itu, ketidakpastian fiskal di Washington kembali membebani pasar global setelah Senat AS untuk ke-11 kalinya gagal mengesahkan rancangan undang-undang pendanaan, memperpanjang penutupan pemerintah hingga hari ke-22. Kebuntuan ini semakin mengikis kepercayaan investor terhadap kredibilitas fiskal AS dan menekan kinerja dolar, meski pasar masih hampir sepenuhnya memprakirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada akhir bulan.

Di sisi lain, rencana pertemuan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan pejabat Tiongkok memberi sedikit ruang stabilisasi bagi dolar AS di tengah kekhawatiran atas berlarutnya penutupan pemerintah. Presiden Donald Trump turut membangun optimisme dengan menyebut peluang “kesepakatan baik” dengan Tiongkok, yang dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan pada akhir Oktober di sela KTT APEC.

Namun, penundaan rilis data ekonomi utama akibat shutdown membuat The Fed kehilangan panduan penting untuk menakar arah kebijakan. Alat FedWatch CME kini memprakirakan probabilitas mendekati 99% untuk pemangkasan sebesar 25 basis poin masing-masing pada Oktober dan Desember.

Rupiah Menanti Keputusan BI, IHK AS dan The Fed di Tengah Ketidakpastian Fiskal AS

Investor kini menunggu rilis data inflasi September pada Jumat, yang diprakirakan naik 3,1% (yoy) dari 2,9% pada Agustus, dengan inflasi inti stabil di 3,1%, sebagai acuan baru dalam menilai kekuatan ekonomi AS di tengah tekanan politik dan fiskal yang belum mereda.

Arah pergerakan rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan dan hasil rapat The Fed di akhir Oktober. Keduanya menjadi katalis utama yang akan menentukan apakah fase konsolidasi rupiah berlanjut atau berbalik menguat.

Jika BI menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi pasar dan The Fed tetap menegaskan jalur pelonggaran, rupiah berpeluang mendapatkan dorongan stabilisasi tambahan dari arus modal asing. Namun, jika ketidakpastian fiskal di AS terus berlarut dan data inflasi menunjukkan tekanan yang lebih tinggi dari prakiraan, ruang penguatan rupiah dapat kembali terbatas dalam jangka pendek.

Dengan volatilitas global yang masih tinggi, pasar cenderung mempertahankan sikap hati-hati hingga kejelasan arah kebijakan moneter kedua bank sentral utama tersebut benar-benar terkonfirmasi.

Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Okt 22, 2025 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 4.5%

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

Prakiraan Harga Perak: XAG/USD Pulih Mendekati $49,00 di Tengah Kekhawatiran Perdagangan AS-Tiongkok

Harga Perak (XAG/USD) rebound mendekati $49,00 selama sesi perdagangan Asia akhir pada hari Rabu setelah menarik tawaran beli di sekitar level terendah baru dua minggu di $47,53 yang tercatat lebih awal pada hari itu
了解更多 Previous

Core Consumer Price Index (YoY) Inggris September Keluar sebesar 3.5%, di Bawah Harapan (3.7%)

Core Consumer Price Index (YoY) Inggris September Keluar sebesar 3.5%, di Bawah Harapan (3.7%)
了解更多 Next