Rupiah Stabil di Tengah Tekanan Global, Pasar Tunggu Sinyal The Fed dan Kejelasan Shutdown AS

  • Rupiah bergerak di sekitar 16.590, diprakirakan akan berada di rentang 16.520-16.620.
  • Pasar menahan langkah di tengah kebuntuan anggaran AS dan spekulasi pemangkasan suku bunga bila shutdown berkepanjangan.
  • Injeksi likuiditas dan ekspansi QRIS lintas negara diharapkan menopang stabilitas rupiah di tengah ketegangan dagang AS-Tiongkok yang kian meningkat.

Nilai tukar rupiah ditutup di posisi 16.554 per dolar AS pada perdagangan Senin, relatif stabil di tengah kenaikan permintaan dolar global menjelang serangkaian pidato pejabat The Fed Amerika Serikat dan berlanjutnya kebuntuan anggaran di Washington. Pada Selasa di awal sesi Eropa, rupiah bergerak di sekitar 16.590, melemah tipis 47 poin atau 0,28%, dengan rentang perdagangan USD/IDR diprakirakan di 16.520-16.620. Pergerakan yang cenderung mendatar (sideways) mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu kejelasan arah kebijakan global dan prospek suku bunga AS.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan fluktuatif di sekitar 99,29. Penguatan dolar mulai tertahan karena pasar menunggu hasil negosiasi anggaran AS yang membuat shutdown pemerintah memasuki minggu ketiga. DXY sempat naik ke 99,37, namun terkoreksi setelah imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun menurun dan muncul spekulasi pemangkasan suku bunga bila situasi fiskal yang macet mulai menekan aktivitas ekonomi.

Pemerintah Siapkan Tambahan Likuiditas, Bidik Pertumbuhan Ekonomi 8%

Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia menyiapkan tambahan likuiditas bagi bank-bank milik negara guna mempercepat penyaluran kredit dan memperkuat dorongan ekonomi domestik. Kebijakan ini diharapkan menumbuhkan kembali optimisme pasar terhadap stabilitas sektor keuangan serta menarik aliran investasi baru yang dapat menjaga ketahanan rupiah di tengah tekanan global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan ekonomi berpotensi mencapai 5,5 pada 2025 dan 6% pada 2026, ditopang oleh suntikan dana Rp200 triliun yang telah sebagian besar disalurkan sebagai pinjaman produktif.

Dalam Investor Daily Summit 2025, ia juga menegaskan target pertumbuhan hingga 8% sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia kekuatan ekonomi regional melalui strategi “Sumitronomics”, yang menitikberatkan pada pertumbuhan inklusif, pemerataan, dan stabilitas nasional.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan komitmen pemerintah dan Bank Indonesia memperluas transaksi lokal lewat Local Currency Transaction (LCT) dan QRIS lintas negara. Ekspansi QRIS diharapkan mengurangi ketergantungan pada dolar dan menopang stabilitas rupiah.

Biaya Pelabuhan AS-Tiongkok Ancaman bagi Jalur Perdagangan Global

Ketegangan di lintasan global kembali meningkat, menyusul langkah timbal balik Amerika Serikat dan Tiongkok yang sama-sama mengenakan biaya pelabuhan (port fee) terhadap kapal lawan dagangnya. Kebijakan ini dinilai dapat mengganggu stabilitas rantai pasok global, menambah beban logistik, dan mendorong pengalihan rute pelayaran internasional.

Tiongkok mulai mengenakan biaya khusus bagi kapal yang dimiliki, dioperasikan, dibangun, atau berbendera AS, sebagai balasan atas kebijakan port fee Washington terhadap kapal Tiongkok. Sebagai respons tambahan, pemerintah Tiongkok membuka investigasi terhadap dampak penyelidikan maritim AS (U.S. Section 301) yang dinilai dapat mempengaruhi industri kapal dan jaringan pelayaran dalam negerinya.

Di sisi AS, kebijakan serupa tengah disiapkan dengan tarif awal US$50 per net ton per pelayaran yang akan meningkat hingga 2028, disertai sejumlah penyesuaian agar tidak membebani kapal non-flag Tiongkok.

Langkah timbal balik ini diprakirakan akan menekan perusahaan pelayaran besar, sekaligus menguji ketahanan perdagangan laut global di tengah hubungan ekonomi dua raksasa dunia yang kian tegang. Sementara itu, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Korea Selatan pada akhir Oktober untuk membahas ketegangan dagang yang terus meningkat.

Shutdown AS Hari ke-14, Senat Bersiap Kembali Bersidang

Sementara hubungan dagang eksternal menghadapi tekanan baru, pemerintah AS juga tengah berjuang di dalam negeri menghadapi dampak shutdown yang belum berakhir. Situasi fiskal yang belum terselesaikan memperburuk persepsi pasar terhadap stabilitas kebijakan ekonomi Washington.

Shutdown pemerintah AS memasuki hari ke-14 sejak dimulai pada 1 Oktober. Senat dijadwalkan kembali bersidang pada 14 Oktober setelah sempat ditangguhkan pada 9 Oktober karena gagal meloloskan legislasi pendanaan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa dampak shutdown mulai terasa pada ekonomi riil, terutama terhadap pembayaran bagi pegawai federal dan kelangsungan layanan publik.

Rupiah Berpotensi Konsolidasi, Pasar Menanti Sinyal The Fed dan Kejelasan Shutdown AS

Dengan beragam katalis global dan domestik yang tengah berlangsung, rupiah berpotensi tetap bergerak dalam pola konsolidasi jangka pendek. Ketidakpastian dari shutdown AS dan tensi dagang AS-Tiongkok masih menjadi penahan utama, sementara dukungan dari kebijakan likuiditas pemerintah dan inovasi sistem pembayaran lintas negara memberi bantalan stabilitas di sisi domestik.

Pasar kini menunggu konfirmasi arah dari pidato beberapa pejabat The Fed, Laporan Anggaran Bulanan (Agustus) yang dijadwalkan hari ini dan hasil pembahasan anggaran di Washington, yang akan menentukan kekuatan dolar dalam beberapa hari ke depan. Jika tensi global mulai mereda dan respons fiskal domestik berjalan efektif, rupiah berpeluang menguji penguatan menuju area 16.500, meski risiko pelemahan tetap terbuka apabila ketidakpastian eksternal berlanjut lebih lama dari prakiraan.

Opsi Valas yang Kedaluwarsa untuk NY Cut pada 14 Oktober

Kedaluwarsa opsi Valas untuk 14 Oktober pemotongan NY pada pukul 10:00 Waktu Timur melalui DTCC dapat ditemukan di bawah.
Leer más Previous

USD/CAD Menguat Melewati 1,4050 karena Penghindaran Risiko dan Harga Minyak yang Lebih Rendah

Dolar AS telah melanjutkan tren naiknya terhadap Dolar Kanada yang lebih lemah minggu ini
Leer más Next