Rupiah Melemah di Tengah Kuatnya Dolar; Shutdown AS dan Sikap The Fed Menahan Arah Pasar

  • Rupiah turun 0,50% ke Rp16.599 per dolar AS pada Senin pagi, saat DXY menguat ke 98,08.
  • Shutdown pemerintah AS menunda rilis data utama, mendorong permintaan dolar sebagai aset safe haven.
  • The Fed berhati-hati terhadap pemangkasan suku bunga, sementara pemerintah Indonesia menahan tekanan rupiah lewat pengawasan dana Himbara.

Pergerakan pasar pada Senin siang, 6 Oktober 2025, memperlihatkan kecenderungan penguatan dolar AS di tengah pelemahan mayoritas mata uang regional, termasuk rupiah. Hingga pukul 11:12 WIB, rupiah melemah ke Rp16.599 per dolar AS, turun 82 poin atau 0,50% dibanding penutupan akhir pekan lalu, bergerak di kisaran Rp16.516-Rp16.615 sejak pembukaan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke 98,08 atau naik 0,38%, menandakan momentum beli dolar mulai pulih setelah rebound dari area 97 pada pekan lalu. Kenaikan dolar didorong oleh sikap hati-hati pejabat The Fed seperti Lorie Logan dan Austan Goolsbee yang menilai pelonggaran moneter perlu dilakukan bertahap agar tidak memicu inflasi baru. Di saat bersamaan, penutupan sebagian pemerintahan AS dan penundaan rilis data NFP memperkuat daya tarik dolar sebagai aset safe haven.

Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa lima bank Himbara penerima dana pemerintah Rp200 triliun dilarang menggunakan dana tersebut untuk membeli dolar dan wajib menyalurkannya ke sektor riil. Langkah ini bertujuan menahan tekanan terhadap rupiah dengan mencegah lonjakan permintaan valas dari perbankan di tengah penguatan dolar global.

Perlambatan Sektor Jasa AS dan Ketegangan Politik Kian Tekan Arah Rupiah

Sementara dari Amerika Serikat, data terakhir menunjukkan perlambatan moderat di sektor jasa. Indeks PMI Jasa S&P Global naik tipis ke 54,2 dari 53,9, sementara ISM Services turun ke 50,0 – level terendah dalam beberapa bulan. Penurunan pada pesanan baru (50,4) dan ketenagakerjaan (47,2) mengindikasikan melambatnya ekspansi, meski tekanan harga masih tinggi dengan Prices Paid di 69,4. Kondisi ini menegaskan bahwa sektor jasa mulai mendingin namun masih menghadapi tekanan inflasi, memperumit arah kebijakan The Fed di tengah shutdown pemerintah yang menunda rilis data tenaga kerja.

Ketegangan politik AS juga meningkat setelah serikat pekerja federal menggugat rencana PHK massal oleh pemerintahan Trump selama penutupan pemerintah. Sekitar 750.000 pegawai federal dirumahkan setiap hari akibat kebuntuan anggaran sejak 1 Oktober, dan penundaan rilis data utama seperti perdagangan dan klaim pengangguran membuat investor kehilangan panduan menjelang keputusan The Fed tiga minggu lagi.

Fokus pasar kini beralih pada risalah FOMC September dan pandangan dovish gubernur baru Stephen Miran, yang menilai The Fed masih memiliki ruang luas untuk memangkas suku bunga menuju tingkat netral. Namun, perbedaan pandangan muncul di antara pejabat The Fed: Goolsbee menilai pemangkasan harus hati-hati karena inflasi jasa bukan akibat tarif, sedangkan Logan menekankan risiko inflasi baru jika pelonggaran dilakukan terlalu cepat.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan minimnya katalis domestik, rupiah berpotensi tetap berkonsolidasi di area Rp16.500-Rp16.700 dalam waktu dekat, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter AS dan perkembangan politik di Washington.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.

USD/CAD Tetap Lemah Dekat 1,3950 saat Harga Minyak Naik

USD/CAD tetap tertekan selama dua sesi berturut-turut, diperdagangkan di sekitar 1,3950 selama perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Pasangan mata uang ini melemah saat Dolar Kanada (CAD) yang terkait dengan komoditas menguat di tengah harga Minyak yang lebih tinggi. Perlu dicatat bahwa Kanada adalah eksportir Minyak terbesar ke Amerika Serikat (AS).
Baca selengkapnya Previous

Harga Emas India Hari ini: Emas Naik, Menurut Data FXStreet

Harga Emas naik di India pada hari Senin, menurut data yang dikompilasi oleh FXStreet
Baca selengkapnya Next