Rupiah Konsolidasi Tipis, Pasar Tunggu Rilis Inflasi AS
- Rupiah bergerak di Rp16.471 per dolar AS, melemah 0,16% dengan rentang sempit Rp16.438-Rp16.477,9.
- Data domestik menunjukkan penjualan ritel Juli melonjak 4,7% YoY.
- Fokus pasar global beralih ke data inflasi AS dan arah kebijakan The Fed, dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Indeks nilai tukar rupiah Indonesia (IDR) terhadap dolar AS (USD) pada Kamis menjelang sesi Eropa tercatat Rp16.471, melemah 25,6 poin atau 0,16%. Pergerakan ini menempatkan rupiah masih dalam pola konsolidasi, sejalan dengan rentang harian yang relatif sempit di Rp16.438-Rp16.477,9. Sejumlah analis memprakirakan USD/IDR akan berfluktuasi dalam rentang Rp16.380-16.480. Kurs domestik menunjukkan kecenderungan defensif, dengan tekanan jual terbatas sehingga pelemahan hanya berlangsung tipis. Arah rupiah pada perdagangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh katalis global, terutama data inflasi dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ritel Indonesia Juli Melonjak 4,7% YoY meski Bulanan Terkoreksi
Data terbaru memperlihatkan arah konsumsi rumah tangga yang berlapis. Setelah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus turun tipis ke 117,2 dari 118,1 pada Juli, Bank Indonesia (BI) merilis bahwa penjualan ritel Juli tumbuh 4,7% YoY, percepatan tajam dari 1,3% sebelumnya sekaligus laju tercepat sejak Maret. Angka ini memberi sinyal adanya dorongan baru pada daya beli setelah sempat melemah.
Jika dilihat secara bulanan, penjualan ritel turun 4,1%, pelemahan terdalam dalam tiga bulan terakhir. Koreksi ini mencerminkan berakhirnya dorongan belanja musiman Idul Fitri dan masuk ke fase normalisasi pengeluaran rumah tangga.
Ke depan, BI menilai tekanan inflasi tiga bulan mendatang pada Oktober 2025 akan relatif stabil, sementara tekanan inflasi enam bulan ke depan pada Januari 2026 diprakirakan meningkat, menandakan konsumen masih akan menata ulang pola belanja di tengah perubahan harga.
Inflasi Produsen AS Melemah, Pasar Tunggu Rilis IHK Inti sebagai Penentu Langkah The Fed
Di sisi lain, inflasi produsen AS melemah pada Agustus, dengan IHP turun ke 2,6% YoY dari 3,3% dan terkoreksi 0,1% MoM. IHP inti juga melambat ke 2,8% YoY dari 3,7%, di bawah prakiraan pasar. DXY merespons dengan pelemahan, ditutup di 97,80 sebelum pulih tipis ke 97,86.
Fokus berikutnya beralih ke rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus pada Kamis pukul 19:30 WIB, yang dipandang penting dalam menilai arah kebijakan The Fed di tengah penerapan tarif Presiden Donald Trump. Konsensus memprakirakan inflasi utama naik ke 2,9% YoY dari 2,7% pada Juli, dengan inflasi inti diprakirakan bertahan di 3,1% YoY. Secara bulanan, baik IHK maupun IHK inti diproyeksikan meningkat 0,3%.
Yohay Elam, Analis Senior FXStreet, menegaskan bahwa fokus utama investor dan The Fed kini tertuju pada inflasi inti, yang mengecualikan energi dan makanan. Ia menyoroti prakiraan pasar yang memprakirakan kenaikan 0,3% bulanan pada Agustus, sama seperti Juli, dengan laju tahunan naik ke 3,1%. Menurut Elam, setiap kenaikan lebih lanjut dari angka ini akan mempersempit ruang bagi The Fed untuk melakukan pemangkasan suku bunga.
Pasar Tunggu Keputusan The Fed 17 September, Proyeksi BI Rate Terbelah antara 4,25% dan 4,50%
Sementara itu, para investor kini menakar peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada 17 September. Ekspektasi dominan mengarah pada penurunan bertahap sebanyak tiga kali, masing-masing 25 basis poin, hingga akhir tahun. Skenario ini dianggap dapat membatasi ruang apresiasi dolar dan berpotensi memberi sokongan bagi rupiah.
Dari sisi proyeksi jangka menengah, pada awal bulan ini, analis JP Morgan memprakirakan The Fed akan memangkas total 75 bp hingga akhir 2025. Ruang pelonggaran ini diyakini memberi peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate sebesar 75 bp menuju 4,25%. Kendati demikian, JP Morgan menilai sektor perbankan domestik masih menghadapi tantangan, mulai dari melemahnya penyaluran kredit hingga kenaikan biaya pendanaan yang menekan margin bunga bersih. Mereka juga memproyeksikan rupiah bisa bergerak ke Rp16.100 per USD pada akhir tahun.
Sebagai perbandingan, analis Capital Economics memprakirakan BI akan menutup 2025 dengan suku bunga di level 4,50%, setelah penurunan menjadi 5,00% pada Agustus lalu. Perbedaan pandangan analis menandakan bahwa skenario suku bunga BI tetap terbuka, dengan keputusan akhir sangat ditentukan oleh interaksi faktor eksternal dan daya tahan ekonomi nasional.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen non Pangan & Energi (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Sep 11, 2025 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.1%
Sebelumnya: 3.1%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Berdasarkan mandat tersebut, inflasi harus berada pada kisaran 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah permasalahan dan kemacetan rantai pasokan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.