Rupiah Melemah Moderat, Gandum Dorong Arah Baru Arus Dagang Asia Tenggara, Tunggu PDB AS Kuartal 2

  • USD/IDR naik tipis ke 16.357,5, mengindikasikan kehati-hatian pasar menjelang pidato pejabat The Fed.
  • Indonesia dan negara ASEAN lainnya mulai mengalihkan pembelian biji-bijian ke AS, menggantikan Australia dan Rusia.
  • Rilis PCE dan PDB Kuartal, Klaim Tunjangan Pengangguran serta Pidato Waller jadi fokus pasar dalam menentukan arah pergerakan hari ini.

Pergerakan nilai tukar Rupiah Indonesia (IDR) terhadap Dolar AS (USD) pada Kamis menunjukkan kecenderungan depresiatif yang moderat, dengan kurs USD/IDR bergerak di 16.358, menguat 11 poin atau sekitar 0,06% pada basis harian. Meski pergerakannya masih terbilang landai, pola ini mencerminkan sikap pasar yang berhati-hati sambil menunggu rilis data PDB Kuartal 2 dan inflasi PCE, serta arah kebijakan moneter dari pidato Gubernur The Fed Christopher Waller malam ini. Hari ini, Rupiah diprakirakan akan diperdagangkan dalam kisaran 16.320-16.420.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) selama empat sesi terakhir bergerak dalam pola konsolidatif dengan rentang sempit, menandakan belum adanya momentum baru yang cukup kuat untuk mengarahkan pergerakan secara lebih tegas. Pada saat laporan ini ditulis, DXY berada di level 98,170, menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung menahan keputusan besar menjelang rilis data ekonomi AS seraya menunggu petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.

Arus Dagang Asia Bergeser: Gandum AS Kembali Serbu Indonesia, Australia Tertekan

Dari sisi fundamental regional, pasar merespons perubahan besar dalam arus dagang Asia Tenggara. Indonesia, Vietnam, Bangladesh, Filipina, dan Thailand mulai meningkatkan pembelian gandum, jagung, dan bungkil kedelai dari AS, menyusul kesepakatan dagang yang menetapkan penurunan tarif ekspor ke AS. Khusus Indonesia, penggilingan tepung telah membeli 250.000 ton gandum AS sejak Juli 2025, dan menandatangani MoU pembelian hingga 1 juta ton per tahun. Sebagai perbandingan, AS hanya mengekspor 693.000 ton pada 2024, sementara Australia masih mendominasi dengan 3 juta ton.

Tren ini diproyeksikan menggeser pangsa pasar eksportir tradisional seperti Australia, Kanada, Rusia, dan Argentina, serta memberi tekanan kompetitif baru dalam rantai pasok biji-bijian Asia. Masuknya produk-produk pertanian AS yang lebih murah juga berpotensi memperkuat nilai Dolar secara regional, termasuk terhadap Rupiah. Namun di sisi lain, akses tarif rendah AS terhadap ekspor Indonesia (seperti CPO dan kakao) membuka peluang surplus baru dalam neraca perdagangan RI.

Data PDB dan PCE AS Kuartal 2 Malam Ini Jadi Penentu Arah Dolar

Di pasar global, perhatian tertuju pada rilis data makro AS yang dijadwalkan malam ini. Produk Domestik Bruto (PDB) Pendahuluan kuartal 2 diproyeksikan tumbuh 3,1%, sedikit lebih tinggi dari realisasi sebelumnya di 3%, mencerminkan keyakinan pasar akan ketahanan ekonomi AS meskipun dibayangi tekanan tarif dan suku bunga tinggi. Inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) Pendahuluan Kuartal 2 juga diprakirakan tetap kuat. PCE Inti diproyeksikan naik menjadi 2,6% dari 2,5%, sementara PCE utama stabil di 2,1%, menyiratkan tekanan harga masih berlanjut.

Dari sektor tenaga kerja, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims) diprakirakan turun ke 230.000 dari sebelumnya 235.000, mencerminkan pasar tenaga kerja yang tetap resilien. Sementara itu, Penjualan Rumah Tertunda (Pending Home Sales) bulan Juli diprakirakan minus 0,1%, membaik dari minus 0,8% sebelumnya – mengindikasikan masih adanya daya tahan di sektor perumahan meski dibayangi beban kredit.

Pidato Waller akan dicermati, apakah ia akan mengisyaratkan petunjuk arah kebijakan The Fed ke depan. Dengan arus dagang global yang mulai mengalir ulang ke Asia Tenggara dan kompetisi harga biji-bijian yang menguat, Rupiah berpotensi mendapat tekanan tambahan, namun tetap menyimpan peluang stabilisasi jika perdagangan RI ke AS makin produktif dan terarah.

Indikator Ekonomi

Produk Domestik Bruto Disetahunkan

Produk Domestik Bruto (PDB) riil tahunan, dirilis setiap triwulan oleh Biro Analisis Ekonomi AS, mengukur nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi di Amerika Serikat dalam periode waktu tertentu. Perubahan PDB merupakan indikator paling populer untuk kesehatan ekonomi negara secara keseluruhan. Data dinyatakan dalam tingkat tahunan, yang berarti bahwa tingkat tersebut telah disesuaikan untuk mencerminkan jumlah PDB yang akan berubah selama satu tahun, jika terus tumbuh pada tingkat tertentu. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Agu 28, 2025 12.30 (Pendahuluan)

Frekuensi: Kuartalan

Konsensus: 3.1%

Sebelumnya: 3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) merilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara tahunan untuk setiap kuartal. Setelah menerbitkan perkiraan pertama, BEA merevisi data dua kali lagi, dengan rilis ketiga mewakili pembacaan akhir. Biasanya, perkiraan pertama adalah penggerak pasar utama dan kejutan positif dilihat sebagai perkembangan positif USD sementara data yang mengecewakan kemungkinan akan membebani greenback. Pelaku pasar biasanya mengabaikan rilis kedua dan ketiga karena umumnya tidak cukup signifikan untuk mengubah gambaran pertumbuhan secara bermakna.

Nakagawa BoJ mengatakan akan membuat keputusan kebijakan di setiap pertemuan berdasarkan data yang kuat

Anggota dewan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) Junko Nakagawa mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin menjelang setiap pertemuan kebijakan untuk menghindari tertinggal, mengingat pertumbuhan upah yang kuat selama beberapa tahun terakhir
Leia mais Previous

Indeks Kepercayaan Ekonomi Turki Juli Meningkat ke 97.9 dari Sebelumnya 96.3

Indeks Kepercayaan Ekonomi Turki Juli Meningkat ke 97.9 dari Sebelumnya 96.3
Leia mais Next