Rupiah Konsolidasi Pasca-Penguatan, Pasar Mencermati Arah The Fed dan Risiko Fiskal Domestik

  • Rupiah menguat 0,13% ke Rp16.198 per USD akhir pekan lalu, dipicu pelemahan DXY usai pidato Powell di Jackson Hole.
  • The Fed ubah kerangka kebijakan, menghapus pendekatan kompensasi inflasi, pasar menakar sinyal dovish.
  • CDS Indonesia turun, aliran dana nonresiden tetap selektif, sementara ketegangan fiskal domestik dan isu otonomi ikut menjadi perhatian.

Laju Rupiah Indonesia (IDR) memasuki fase konsolidasi pada awal pekan, setelah mencatatkan penguatan signifikan ke level Rp16.198 per dolar AS (USD) pada Jumat lalu, terdorong anjloknya Indeks Dolar AS (DXY) usai pidato Ketua The Fed Jerome Powell di Simposium Jackson Hole. Namun hingga menjelang sesi Eropa hari Senin, pasangan mata uang USD/IDR kembali menguat tipis 0,13% ke sekitar Rp16.255, seiring dengan respons teknis DXY yang ditutup naik ke 97,891. Meski mencetak candle hijau kecil, DXY masih tertahan di bawah resistance 98, menandakan tekanan jual belum sepenuhnya mereda dan membuka ruang bagi mata uang regional untuk mempertahankan stabilitas jangka pendek.

The Fed Isyaratkan Fleksibilitas Baru, Powell dan Pejabat Regional Soroti Inflasi dan Ketidakpastian Data

Pusat perhatian pasar kini tertuju pada perubahan besar dalam kerangka kebijakan The Fed. Powell secara tegas menyampaikan penghapusan strategi kompensasi inflasi – yang sebelumnya membiarkan inflasi overshoot untuk mengimbangi periode deflasi – dan mengadopsi pendekatan penargetan yang lebih fleksibel. Dalam konteks ini, ia menyoroti inflasi PCE tahunan yang naik ke 2,6%, dengan inflasi inti mencapai 2,9% per Juli, sebagian dipicu oleh efek tarif. Powell menilai dampak tarif ini kemungkinan bersifat sementara, namun tetap mengakui bahwa tekanan harga kini cenderung ke sisi atas, sementara risiko terhadap ketenagakerjaan mulai meningkat.

Nada kehati-hatian juga digaungkan oleh Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, yang belum mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC September, dengan alasan inflasi masih jauh dari target. Ia menyebut kebijakan saat ini tepat untuk kondisi tenaga kerja yang masih kuat, namun membuka ruang penyesuaian bila risiko nyata muncul. Senada, Presiden The Fed Boston, Susan Collins, menilai ketidakpastian tidak bisa menunda pengambilan keputusan, dan menyebut potensi dampak tarif terhadap inflasi belum sepenuhnya terukur. Komentar-komentar ini membentuk ekspektasi pasar bahwa arah kebijakan The Fed masih cair, dengan keputusan akhir sangat tergantung pada data ekonomi terbaru.

Stabilitas Risiko Terjaga, BI Perkuat Konektivitas Pembayaran dengan Jepang, Ekspor Biodiesel Hadapi Hambatan UE

Dari sisi domestik, sinyal risiko fiskal turut membayangi. Rencana Presiden Prabowo untuk memangkas dana transfer daerah hingga 25% menjadi Rp650 triliun pada 2026 memicu protes di berbagai wilayah. Kebijakan ini dianggap dapat memicu kenaikan pajak lokal dan mengancam layanan publik, serta dinilai memperlemah otonomi daerah. Sentimen ini menambah beban persepsi risiko, dan berpotensi memengaruhi pandangan investor terhadap stabilitas makro dan nilai tukar – terutama jika konsolidasi fiskal pusat dinilai mengorbankan prospek pembangunan daerah.

Namun demikian, Bank Indonesia melaporkan premi CDS Indonesia 5 tahun justru mencatat penurunan tipis ke 66,97 bp per 21 Agustus 2025 dari 67,72 bp sepekan sebelumnya. Ini menandakan persepsi risiko terhadap utang Indonesia masih relatif terkendali. Arus modal nonresiden dalam periode 19-21 Agustus menunjukkan beli neto Rp0,91 triliun, terutama di pasar saham (Rp2,31 triliun), meski tercatat jual neto di SBN (Rp0,62 triliun) dan SRBI (Rp0,78 triliun). Secara kumulatif, investor asing mencatat jual neto besar di saham (Rp52,99 triliun) dan SRBI (Rp85,83 triliun), namun masih mempertahankan eksposur pada SBN dengan beli neto Rp71,63 triliun, mencerminkan minat terhadap aset pendapatan tetap domestik.

Dari sisi fundamental struktural, Bank Indonesia (BI) juga memperkuat konektivitas lintas negara melalui implementasi QRIS di Jepang sejak 25 Agustus. Masyarakat Indonesia kini dapat bertransaksi langsung menggunakan aplikasi pembayaran domestik di merchant JPQR Global tanpa perlu menukar valuta asing. Inisiatif ini melengkapi skema Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan Jepang, yang nilai transaksinya melonjak menjadi USD 5,1 miliar pada Januari-Juli 2025 dari USD 2,23 miliar tahun sebelumnya. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut langkah ini sebagai penguatan sistem pembayaran digital yang inklusif, sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi bilateral.

Di ranah perdagangan global, Indonesia juga tengah menekan Uni Eropa agar mencabut bea masuk imbalan atas biodiesel, menyusul putusan WTO yang menyatakan kebijakan tersebut tidak sesuai aturan perdagangan internasional, seperti yang dilaporkan oleh Reuters. Ketegangan dagang ini menambah dimensi eksternal yang perlu dicermati pasar, terlebih karena isu keberlanjutan dan deforestasi masih menjadi hambatan struktural bagi ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke kawasan tersebut.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Tingkat Tenaga Kerja (Krtl/Krtl) Swiss 2Q Naik ke 5.532M dari Sebelumnya 5.512M

Tingkat Tenaga Kerja (Krtl/Krtl) Swiss 2Q Naik ke 5.532M dari Sebelumnya 5.512M
Devamını oku Previous

EUR/GBP Melemah ke Dekat 0,8650 di Tengah Tidak Ada Kemajuan pada Kesepakatan Perdamaian Rusia-Ukraina

Pasangan mata uang EUR/GBP kehilangan nilai di sekitar 0,8660 selama awal sesi Eropa pada hari Senin. Sejumlah data ekonomi Inggris yang lebih baik dari yang diprakirakan memberikan dukungan pada Pound Sterling (GBP) terhadap Euro (EUR)
Devamını oku Next