USD/JPY Turun Mendekati 145,00 di tengah Sentimen Risk-off, Data NFP AS yang Lebih Lemah
- USD/JPY tetap berada di bawah tekanan jual di sekitar 145,00 di sesi Asia hari Senin, turun 1,05% pada hari ini.
- Laporan ketenagakerjaan AS bulan Juli yang lemah pada hari Jumat membebani Dolar AS.
- Meningkatnya risiko geopolitik Timur Tengah dan melonggarnya carry trade mendukung JPY.
Pasangan mata uang USD/JPY menarik beberapa penjual di dekat 145,20 selama jam perdagangan di sesi Asia pada hari Senin. Dolar AS (USD) yang lebih lemah setelah data ketenagakerjaan AS menyeret pasangan mata uang ini lebih rendah. Para pelaku pasar akan memantau Indeks Pembelian Manajer (IMP) Jasa ISM AS pada hari Senin untuk mendapatkan dorongan baru, yang diprakirakan akan meningkat ke 51,0 di bulan Juli dari 48,8 di bulan Juni.
Greenback tetap berada di bawah tekanan karena pasar tenaga kerja AS terus memburuk di bulan Juli. Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan 114.000 pekerjaan ditambahkan dalam ekonomi AS pada bulan Juli dari revisi turun 179.000 pada bulan Juni, lebih buruk dari ekspektasi pasar untuk kenaikan 175 ribu. Tingkat Pengangguran naik menjadi 4,3%, tingkat tertinggi sejak akhir 2021 dan di atas konsensus pasar sebesar 4,1%. Pendapatan Rata-rata Per Jam naik 0,2% bulan ke bulan pada periode yang sama, di bawah konsensus pasar sebesar 0,3%.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat meningkatkan mata uang safe haven seperti Yen Jepang (JPY). Menteri Luar Negeri AS Tony Blinken mengatakan kepada rekan-rekannya dari negara-negara G7 pada hari Minggu bahwa serangan oleh Iran dan Hizbullah terhadap Israel dapat dimulai paling cepat pada hari Senin, tiga sumber yang diberi pengarahan dalam panggilan telepon mengatakan kepada Axios.
Selain itu, ekspektasi bahwa para pengambil kebijakan Bank of Japan (BoJ) akan mengetatkan kebijakan moneter lebih lanjut dan pelepasan carry trade dapat mendukung JPY dalam waktu dekat. Analis Valas NBC, Stéfane Marion dan Kyle Dahms mencatat, "Faktor-faktor yang mendasari penguatan saat ini ada dua, pertama, pencabutan carry trade membawa lonjakan awal yang kemudian diperparah oleh keputusan mengejutkan dari Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga ke level tertingginya dalam 15 tahun terakhir. Selain itu, bank sentral menunjukkan arah menuju perlambatan pembelian aset, sebuah pergeseran yang cukup besar dalam sikap dari sebelumnya easy money."