USD/IDR Dibuka Melemah di 16.281, Rupiah Sedikit Menguat di 16.297 Jelang FOMC Pekan Ini
- USD/IDR tampak bergerak di sekitar 16.297 sejauh ini, berpotensi bergerak di kisaran 16.300-16.250.
- Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat para investor beralih ke aset-aset yang lebih aman.
- Para pedagang cenderung menghindari perdagangan agresif menjelang rilis risalah rapat FOMC pekan ini.
Pasangan USD/IDR dibuka melemah di 16.281 pada awal perdagangan pekan ini. Pada grafik harian pasangan mata uang tersebut terlihat telah menutup gap pembukaan yang saat ini sedang bergerak di 16.297.
Pada hari Jumat pekan lalu Bank Indonesia (BI) telah menentukan kurs tengah atau JISDOR Rupiah di 16.294 lebih tinggi 30 poin dari kurs tengah pada hari Kamis di 16.268. Sementara itu, dalam perdagangan hari ini, Rupiah berpotensi bergerak di kisaran 16.300-16.250.
Rupiah terlihat menguat terhadap Yen di akhir perdagangan pekan lalu, meningkat 0,32%. Mata uang ini juga meningkat terhadap mata uang negara-negara Asia lainnya seperti Yuan Renminbi Tiongkok (0,61%), Won Korea (0,59%), dan Ringgit Malaysia (0,21%).
Dolar AS yang diukur dengan indeks DXY melemah ke 104,16 sejauh ini, masih bergerak dalam rentang terbatas antara 104,55-104,12.
Pada hari Jumat (26 Juli), Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) Inti (Thn/Thn) untuk bulan Juni terlihat stabil di 2,6% sama dengan angka sebelumnya, dan sedikit di atas estimasi 2,5%. Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Thn/Thn) berada di 2,5%, sesuai estimasi dan sedikit di bawah tingkat sebelumnya di 2,6%.
Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi naik secara moderat di bulan Juni yang memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan segera memulai siklus pemangkasan suku bunganya mulai bulan September. Imbal hasil obligasi Treasury AS turun setelah data inflasi tersebut dirilis, yang menyebabkan pelemahan Dolar AS (USD) dan dapat membantu Rupiah stabil.
Selanjutnya, para pedagang kemungkinan akan menghindari untuk melakukan perdagangan yang agresif menjelang hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) yang akan dirilis pada hari Rabu pekan ini.
Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah karena Israel mengumumkan bahwa mereka akan melakukan serangan balasan terhadap Hizbullah di Lebanon setelah menuduh kelompok tersebut menewaskan 12 anak-anak dan remaja dalam serangan roket di lapangan sepak bola di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, Hizbullah membantah bertanggung jawab atas serangan di Majdal Shams tersebut.
Eskalasi yang terjadi dapat berdampak pada kondisi di pasar global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia yang memicu kenaikan harga, dan mendorong para investor untuk mengalihkan aset mereka ke aset-aset yang lebih aman seperti Dolar, Yen dan Emas. Hal ini tentunya dapat menekan Rupiah Indonesia dan memengaruhi perekonomian di negara yang tercatat masih mengimpor minyak sebanyak 17,4 juta ton ini.