Pound Sterling Tetap Tertekan di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Dolar AS Optimis
- Pound Sterling menghadapi tekanan karena ketegangan geopolitik meningkatkan daya tarik aset-aset safe-haven.
- Data ketenagakerjaan dan inflasi Inggris akan mempengaruhi spekulasi penurunan suku bunga BoE.
- Perekonomian Inggris berada pada jalur yang tepat untuk keluar dari resesi teknis.
Pound Sterling (GBP) menunjukkan pemulihan moderat terhadap Dolar AS di sesi London hari ini. Namun, permintaan jangka pendek pasangan GBP/USD masih suram karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan spekulasi Bank of England (BoE) akan mulai menurunkan suku bunga lebih cepat daripada Federal Reserve (The Fed).
Saat ini, pasar keuangan mengantisipasi BoE akan mulai menurunkan biaya pinjaman mulai bulan Agustus sementara The Fed diprakirakan akan mengikuti pada pertemuan bulan September.
Minggu ini, data ketenagakerjaan dan inflasi Inggris akan memandu ekspektasi pasar terhadap BoE karena pasar bertanya-tanya kapan BoE dapat memulai siklus penurunan suku bunga yang telah lama ditunggu-tunggu. Para investor akan sangat fokus pada data pertumbuhan upah dalam periode tiga bulan yang berakhir pada Februari, yang akan dirilis pada hari Selasa, karena data tersebut masih menjadi pendorong utama tekanan harga yang persisten di Inggris.
Intisari Penggerak Pasar Harian: Pound Sterling Mengincar Penurunan, Fokusnya Beralih ke Ketenagakerjaan Inggris
- Pound Sterling menemukan support interim setelah menyelam ke terendah lebih dari empat bulan di dekat 1,2430. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan surutnya spekulasi Federal Reserve (The Fed) akan beralih ke penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Juni telah mengurangi daya tarik mata uang yang sensitif terhadap risiko.
- Ratusan serangan udara dari Iran terhadap Israel sebagai pembalasan atas serangannya terhadap kedutaan Iran di Suriah dekat Damaskus, yang menewaskan tujuh anggota Korps Garda Revolusi Islam/Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), termasuk dua jenderal, telah menakuti permintaan mata uang yang dianggap berisiko.
- Kedua skenario tersebut—meningkatnya ketegangan geopolitik dan memudarnya harapan penurunan suku bunga The Fed—menguntungkan Dolar AS, yang dianggap sebagai aset safe-haven. Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Dolar AS terhadap enam mata uang utama, berada di dekat tertinggi baru lima bulan di 106,10.
- Pada sesi hari Senin, para investor akan fokus pada data Penjualan Ritel bulanan Amerika Serikat untuk bulan Maret, yang akan dipublikasikan pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB). Data Penjualan Ritel, yang mewakili belanja rumah tangga diprakirakan tumbuh 0,3%, setengah dari laju pertumbuhan 0,6% di Februari.
- Di Inggris, perbaikan angka Produk Domestik Bruto (PDB) bulanan telah melegakan para pembuat kebijakan Bank of England (BoE). Sesuai prakiraan, PDB bulanan Februari naik 0,1%, menegaskan bahwa perekonomian berada di jalur untuk keluar dari resesi teknis yang terjadi pada semester kedua 2023. Perekonomian juga tumbuh 0,3% di Januari, direvisi lebih tinggi dari 0,2%.
- Karena prospek perekonomian membaik, BoE dapat mempertahankan kebijakan yang ketat sampai mereka yakin inflasi akan kembali ke target 2% secara berkelanjutan.
Analisa Teknikal: Pound Sterling Masih di Bawah 1,2500

Pound Sterling mengalami sell-off tajam setelah penembusan support psikologis di 1,2500. Tren jangka panjang pasangan GBP/USD telah berubah menjadi bearish karena turun di bawah Exponential Moving Average (EMA) 200-hari, yang berada di sekitar 1,2570.
Penembusan pola grafik Head and Shoulder pada grafik harian telah mengindikasikan pembalikan bearish. Neckline pola grafik tersebut diplot dari terendah 8 Desember di dekat 1,2500.
Relative Strength Index (RSI) 14-periode tergelincir tajam di bawah 40,00, mengindikasikan momentum bearish baru telah dipicu.